Tipografi adalah seni dan ilmu merancang serta menata huruf sehingga pesan visual menjadi lebih terbaca, menarik, dan bermakna.
Bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV), mempelajari tipografi bukan hanya soal memilih font yang “cantik”, tetapi juga memahami bagaimana bentuk huruf dapat memengaruhi cara audiens membaca dan merasakan pesan.
Dalam proses belajar, mahasiswa mendalami konsep seperti:
Anatomi huruf (ascender, descender, counter, dsb.),
Kerning, leading, tracking, untuk mengatur jarak dan keseimbangan visual,
Hierarki visual, agar pesan utama lebih menonjol,
Serta eksplorasi menciptakan font sendiri sesuai karakter desain.
Tipografi mengajarkan bahwa setiap detail — dari ketebalan garis hingga jarak antarhuruf — memiliki peran penting dalam membangun suasana, memperkuat identitas merek, dan meningkatkan keterbacaan.
Seperti diungkapkan Ellen Lupton, desainer dan penulis tipografi ternama:
“Typography is what language looks like.”
Kutipan ini menekankan bahwa tipografi adalah wajah visual dari bahasa; ia membuat kata-kata “terlihat” lebih hidup, personal, dan komunikatif.
Mahasiswa DKV mempelajari bagaimana tipografi membantu:
Membangun mood dan emosi,
Menegaskan identitas visual,
Mengarahkan pembaca melalui struktur visual yang jelas.
Di era digital, tipografi menjadi semakin penting — tidak hanya di media cetak, tetapi juga di:
Aplikasi mobile dan website,
Konten media sosial,
Motion graphic dan video,
Brand identity yang konsisten di berbagai platform.
Tren tipografi saat ini juga mencakup:
Variable fonts yang fleksibel,
Hand-lettering untuk sentuhan personal,
Minimalist typography yang bersih dan elegan.
Namun, prinsip dasarnya tetap sama: menjadikan teks lebih komunikatif, estetis, dan mudah dibaca.
Di kampus, mahasiswa mempraktikkan tipografi melalui:
Mendesain poster tipografi untuk kampanye sosial,
Membuat layout majalah atau buku yang nyaman dibaca dan tetap menarik,
Eksperimen lettering manual dan digital untuk mengeksplorasi gaya visual.
Setiap proyek bukan hanya melatih teknis, tetapi juga kepekaan melihat bagaimana bentuk huruf dapat “bersuara” dan memperkuat pesan.
Tipografi adalah seni membuat kata-kata “berbicara”.
Setiap pilihan huruf, ukuran, hingga spasi bukan keputusan acak, melainkan hasil pemikiran desain untuk membantu audiens memahami pesan dengan cepat dan merasakan nuansa yang diinginkan.
Melalui pembelajaran tipografi, mahasiswa DKV belajar bahwa desain huruf bukan sekadar dekorasi, tetapi bahasa visual yang memperkuat isi, nada, dan karakter pesan.
Lupton, Ellen. Thinking with Type (2010)
Bringhurst, Robert. The Elements of Typographic Style (2012)